Your Mother Should Know

Aku menari-nari di dalam rahim ibuku selama sembilan bulan lamanya. Kata ibuku, setelah aku lahir, aku tidak menangis selama dua minggu. Lalu aku menangis, tertawa, dan berkata-kata di depan ibuku selama tujuh belas tahun. Selama lima setengah tahun setelahnya, aku menangis, tertawa, dan berkata-kata di pikiran ibuku – terkadang di telepon.

Dua puluh dua tahun lebih tujuh bulan aku hidup sebagai anak ibuku. Dua puluh dua tahun lebih tujuh bulan aku dan ibuku diberi kesempatan untuk mengenal satu sama lain.

Ibuku tahu aku bernama Yana Vulita Barus. Dia tahu persis caraku makan dan caraku berpakaian. Dia tahu kegilaanku akan kopi. Dia tahu aku tidak bisa menyetir dan tidak bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga.

Ibuku dan ayahku tahu persis semua kenyataan itu.

Namun dua puluh dua tahun lebih tujuh bulan yang kulewati bukan hanya tentang siapa aku ataupun bagaimana caraku berpakaian. Dua puluh dua tahun lebih tujuh bulan kulewati dengan membentuk jati diriku dan “siapa” aku. Selama dua puluh dua tahun lebih tujuh bulan ibuku mempelajari aku, ada hal-hal yang tidak kurahasiakan namun ibuku tidak tahu.

Ibuku tidak tahu aku senang menggambar. Selama di sekolah aku selalu mendapat nilai tertinggi di mata pelajaran seni, tapi ibuku selalu memarahiku karena nilai sainsku yang rendah. Sering aku menunjukkan hasil-hasil lukisanku kepada ibuku namun ibuku selalu bertanya apakah tugas ilmu sosialku telah kukerjakan atau belum. Bahkan sewaktu aku menyampaikan keinginanku untuk melanjutkan kuliahku di jurusan Seni, ibuku masih bertanya-tanya apakah aku tertarik kepada dunia seni.

Ibuku tidak tahu aku berbakat dalam bidang fotografi. Dua kali sudah aku menjuarai lomba fotografi, dan ibuku hanya mempertanyakan bagaimana kabar kuliahku. Pernah aku menyampaikan keinginanku memiliki sebuah kamera semi-profesional, ibu hanya tertawa dan berkata bahwa jika ingin berfoto-foto bersama teman-teman, kamera saku digital sudah lebih daripada cukup.

Ibuku tidak tahu aku suka pantai lebih dari bagian apapun dari sebuah pulau. Sering aku berkata, “Ibu, aku ingin ke pantai bersama teman-teman”, tapi ibu hanya menjawab, “Pikirkan saja skripsimu.” Kehausanku akan suasana pantai seringkali kupenuhi dengan cara pergi diam-diam tanpa sepengetahuan ibuku.

Banyak hal dari diriku yang ibuku tidak tahu, dan ada beberapa yang ibuku bahkan tidak mau tahu.

Masa remajaku telah kutinggalkan semenjak lima setengah tahun lalu. Mungkin sekarang aku belum bisa dibilang dewasa, namun aku sudah mulai dewasa.

Dan ibuku masih saja belum mengenal anaknya yang mulai dewasa ini.

“Though she was born a long, long time ago
Your mother should know
Your mother should know”
(The BeatlesYour Mother Should Know)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s