Bulan dan Serigala

Di suatu tempat, tinggallah seekor serigala yang selalu sendirian. Di siang hari, sang serigala selalu dijahati mereka yang membencinya. Karena itu, sang serigala lebih menyukai malam yang gelap. Karena sang rembulan yang muncul di malam hari itulah satu-satunya yang bersikap lembut padanya. Walaupun ingin bersama rembulan, sang serigala tak bisa mencapainya, sekuat apapun ia menggapaikan tangan. Lalu sang sergala pun memulai perjalanan yang panjang…

Hari berganti hari…

Setiap pagi menjelang, sang serigala pun pergi bersembunyi. Saat malam tiba, sekuat tenaga dia berusaha mengejar sang rembulan. Meskipun demikian, tetap saja dia tak mampu mendekati sang rembulan. akhirnya sang serigala pun jatuh tersungkur.

Lalu dia pun berpikir. Jangan-jangan sang rembulan akan kerepotan bila dirinya yang selalu dijahati datang mendekat…

Dengan penuh tekad, ia kembali berjalan tetapi kaki-kakinya sudah kelelahan. Kakinya yang terluka di tengah jalan akibat ia bertubrukan dengan seseorang, yang lalu melemparinya dengan batu, terasa sakit.

Dari kedua belah mata sang serigala, keluarlah linangan air mata karena sang rembulan nun di atas sana tetap bersikap lembut seperti biasanya.

“Terima kasih,” ucap sang serigala, “Di tengah kegelapan hari-hariku, hanya cahayamu saja lah yang selalu dan terus menerangi dan membimbing jalanku.”

Dikutip dari komik Happy Café edisi 14, kisah 73.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s