Delayed Dream. Part III: The Unfortunate Events

March 2013. Sekali lagi aku dapat e-mail dari Garuda Indonesia, berisi undangan untuk datang ke tahap Performance Check pada tanggal 1 April. Aku pikir, ya sudahlah, just go with it. How it would turn out, kita lihat nanti. Bagaimana perasaan ayah kalau dia tahu? Dia pasti marah. But at least I tried. Jadi aku pun berangkat, with little to none preparation but with a big dream ahead.

Performance Check

Pukul 7.00 pagi aku udah duduk di kursi tunggu kantor Garuda Indonesia di Jalan Asia Afrika, Bandung. Sekitar pukul 8.30 kami mulai dipanggil satu per satu. Setibanya giliranku, dengan kepercayaan diri yang seadanya aku pun masuk ruangan tes. Disana tinggi dan berat badanku diukur trus aku diminta jalan bolak-balik. Seperti yang udah sering kubaca di beberapa blog, tinggi badan memang dikurangi saat pengukuran. Tinggiku 168 cm tapi di pengukuran dinyatakan 167 cm. Untungnya berat badanku masih 57 jadi masih bisa dibilang proporsional. Aku juga dicek kerapian gigi saat tersenyum (gigi seriku yang di bawah ada yang patah tapi kalau nyengir ngga keliatan jadi mungkin gapapa), dicek kulit tangan dan ditanya apakah menggunakan softlens (aku rabun jauh -2,25).

Selesai pengecekan aku dikasih tau untuk nunggu sampe tanggal 4 April untuk hasil Performance Check. Nggak disangka, aku dan 133 peserta lainnya lolos tahap ini dan diminta datang ke psikotes beberapa hari kemudian.

Psikotes + English Test

Tahap ini dilaksanakan di Grand Hotel Preanger yang ternyata masih satu grup dengan Garuda Indonesia. Tes mulai dilaksanakan pukul 9.00 dan kami dibagi dua, jadi setengah dari peserta mengerjakan psikotes dahulu, setengah laginya mengerjakan tes bahasa Inggris dahulu. Beruntung aku kebagian psikotes dahulu, jadi pikiran masih segar untuk mengerjakan soal-soal psikotes yang lumayan bikin otak keriting. Tes bahasa Inggris ternyata nggak jauh beda sama soal-soal bahasa Inggris waktu UAN SMA atau SPMB (sekarang SNMPTN, atau udah ganti lagi?). Selesai tes rasanya lapar banget sampai semua peserta langsung rebutan snack yang disediakan. Lumayan, hehehe.

Hasil tes tahap ini diumumkan sore harinya di kantor Garuda Indonesia. Wah, jadi bingung. Kalau pulang dulu, kosanku jauh dan palingan cuma bisa istirahat sebentar trus pergi lagi. Kalau nunggu di kantor Garuda Indonesia, it was still 4 hours before the announcement. Kebetulan temanku kerja di sebuah kafe di hotel Grand Preanger jadi aku nunggu disana sambil ngobrol-ngobrol. Akhirnya waktu pengumuman tiba, so I rushed to Garuda’s office and tadaa! Aku lolos lagi!

User Interview

Sembilan puluh dua peserta seleksi dibagi dua ‘kloter’ untuk seleksi tahap ini. Aku kebagian seleksi hari pertama, so there I was, outside the interview room, deg-degan mampus karena dengar-dengar salah satu pengujinya galak dan keji dan entahlah, pasrah aja. Saat tiba giliranku, aku masuk ruangan yang lumayan besar dengan tiga penguji di tiga sudut yang berbeda. Ternyata di dalam kami diwawancara oleh satu penguji saja. Disini aku ditanya soal motivasi, apa aja yang aku tau tentang Garuda Indonesia, diminta menceritakan keseharianku dalam bahasa Inggris kemudian karena aku nulis di formulir bahwa aku bisa bahasa Prancis, aku pun diminta cerita lagi dalam bahasa Prancis. Agak tegang karena salah satu pengujinya ternyata ngerti bahasa Prancis. Aku ngomong bahasa Inggris dan Prancis terbata-bata banget. Abis interview baru mikir kayaknya kebanyakan ngomong ‘like…’ atau ‘um…’ tapi mungkin pengujinya ngertiin yah. Aku juga diminta jalan tanpa sepatu bolak-balik lalu berputar lalu berdiri tegak. Sempat salah mengerti instruksi pengujinya tapi untungnya masih dimaafkan.

Selesai wawancara aku dikasih tau bahwa pengumuman hasil tes ini akan lagi-lagi ditempelkan di kantor Garuda pada sore harinya, maka lagi-lagi aku nongkrongin kafe tempat teman aku kerja. Sore hari aku ke kantor Garuda dan ngeliat nama aku di daftar peserta yang lolos, dan diminta untuk mengikuti wawancara kompetensi tepat besoknya.

Wawancara Kompetensi

Bersamaan dengan para peserta ‘kloter’ 2 user interview, aku pun hadir untuk menjalani wawancara kompetensi. Bapak panitia rekrutmen yang menemani kami di ruang tunggu bilang bahwa kami nggak perlu tegang karena wawancara kompetensi ini cuma ngobrol-ngobrol biasa, tapi nanti ‘dibaca’ karakter kita seperti apa. Kalau mau bicaranya dibuat-buat silahkan saja tapi tetap akan ketauan jadi better be yourself. Ternyata benar, wawancaranya terasa ringan, hanya mengobrol soal motivasi dan bagaimana kita akan bertindak jika suatu hal terjadi (ini ada istilahnya tapi aku lupa). Kayaknya disini nggak ada jawaban benar atau salah, karena yang diliat itu karakter kita. Kalau aku salah maaf, ya. Hehehe.

Hasil wawancara kompetensi diumumin beberapa hari kemudian, dan aku pun dinyatakan kembali lolos dan diminta datang ke kantor Garuda untuk mengambil kartu peserta untuk medex.

Medical Examination

Tes kesehatan diadakan di lab Paramitha di Jalan Pajajaran, Bandung, dan dibagi dalam dua hari. Di hari pertama aku menjalani banyak sekali tes, seperti foto dan cek gigi, tes mata dan penglihatan, tes pernafasan, pendengaran, foto paru-paru dan tes jantung. Waktu tes mata dokternya agak tega ngomong “Gimana ini, -2,25 mau jadi pramugari mana bisa?”. Waduh, jadi pesimis. Tapi dari awal juga aku memang nggak terlalu memikirkan hasilnya walaupun aku berharap banget bisa lolos sampe akhir.

Hari kedua aku diminta mengisi riwayat penyakit kemudian diwawancara oleh dokter dari Garuda Indonesia. Aku juga menjalani beberapa tes yang dilakukan langsung oleh dokter yang sama, seperti cek tulang punggung, cek keseimbangan, dan jarak penglihatan.

Selesai medex, lagi-lagi aku menunggu beberapa hari untuk pengumuman hasil, dan ternyata aku lolos lagi bersama 16 peserta lainnya.

Background Check

Di tahap ini peserta wajib bawa beberapa berkas seperti ijasah dari SD hingga SMA, Kartu Keluarga dan lain-lain, juga surat izin dari orang tua. Wah, aku putar otak. Bagaimana caranya aku mendapatkan surat izin orang tua. Ayah sudah pasti nggak ngizinin. Aku pun nekat menelepon ibuku yang kebetulan lagi di Jakarta. Nggak nyangka ternyata ibu dan keluarga besar ibu sangat mendukung. Kakak dan abang aku juga memberikan dukungannya. Berarti tinggal ayah yang perlu dicairkan sedikit hatinya. Karena nggak berani ngomong langsung, aku minta abangku untuk ngomong ke ayah, dan hasilnya ayah tetap nggak mengizinkan. Aku coba ngomong langsung ke ayah, and I ended up with an hour long speech. Rasanya semua harapan kembali hancur. I’ve gone so far for nothing. I wept and wept and cursed everything and hated everything. Tapi aku nggak mau kabur gitu aja dari undangan background check. Aku bingung. What should I do now? Aku pun memutuskan untuk tetap datang background check dengan berkas seadanya.

Di tahap background check aku menjalani tes tertulis dan wawancara seputar pengetahuan aku tentang NKRI dan Garuda Indonesia. Aku berhasil menjawab dengan baik namun bapak penguji keliatan kecewa karena berkas aku nggak lengkap. “Kalau begini ya susah buat saya untuk meloloskan kamu,” kata beliau. “Tapi kamu jangan berkecil hati. Kamu masih punya 2 tahun untuk coba lagi.”

Setelah bersalaman dengan bapak pengujinya, aku pun mengakhiri wawancara dan meninggalkan ruangan dengan tersenyum. Aku udah hadir. I tried as far as I could. Semua keputusan aku serahkan kepada pihak yang berwenang. Pasrah. Cuma itu yang bisa aku lakukan.

Seminggu kemudian aku menerima pesan dari salah satu peserta lain. “Kita ketemu di pantuhir ya.” Ternyata mereka udah ditelepon pihak panitia dan dinyatakan lolos background check. Semua orang ditelepon, kecuali aku. So I replied, “Aku nggak lolos…” with a shattered heart. Cuma bisa berharap peserta lain bisa melewati pantuhir dengan sukses dan lolos semua.

Aku berusaha untuk terus mikir positif. Aku sudah berhasil sejauh itu, berarti aku punya kemampuan yang dicari oleh Garuda, atau gitulah kira-kira. Sampe sekarang aku masih berharap banget bisa menjadi seorang Flight Attendant. Aku masih berharap ayah bisa luluh sedikit hatinya, and with that hope, I clicked on the ‘apply’ button for Garuda Indonesia’s next recruitment.

Heartbroken? Yes. Giving up? Never. My dream is just being delayed.

Advertisements

7 thoughts on “Delayed Dream. Part III: The Unfortunate Events

  1. Sabar ya,, aku juga udah mengalami banyak kegagalan mulai dri IAA” udah poto pake sragam”, GA, SJ ” psikotest” GSA of AA”dokumentasion” dll dan pada dasarnya jika tuhan sudah mengkehendaki rezky kita pasti akan terjadi, spirit for our dream to be flight attendant.

  2. Pingback: Delayed Dream. Part IV: The Great Universe Conspires | Yana Barus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s