Un Petit Cadeau de Mika

Waktu itu jam 11 malam, aku lagi jalan-jalan sama pacarku naik motor berduaan kayak di film-film, waktu kami ngelewatin kampus UNPAD di Jalan Dipati Ukur, Bandung. Lagi bercanda-canda, tiba-tiba terdengar suara yang ngalihin perhatian kami. “MIAW! MIAW! MIAW!” Suara tangisan anak kucing yang terdengar hingga seberang jalan yang lumayan besar itu. Suaranya kencang banget, dan aku lagsung bilang ke pacarku, “Putar balik!”

Kami pun mendekati sumber suara itu. Hening. Mungkin karena takut ada manusia mendekati jadi anak kucing itu milih buat diam.

“Kamu cari ke arah sana, aku ke arah sini,” kataku.

Sayup-sayup suara tangisannya masih terdengar tapi cuma sesekali. Beberapa satpam kampus UNPAD yang lagi duduk-duduk malah ikut nontonin, dan sempat aku dengar mereka ngobrol, “Itu ngapain?”, “Cari anak kucing mungkin.” Yeee si bapak bukannya ngebantuin malah sibuk ngomongin orang.

Tiba-tiba sang pacar manggil, “Sebelah sini!”

Aku balik badan dan ngedekatin pacar aku. Disana aku ngeliat seekor kucing kecil, kecil sekali, di dekat kaki pacarku. Warnanya hitam-putih loreng-loreng, standar kucing jalanan.

“Kamu tarik dari bawah mobil?

“Enggak, datang sendiri.”

Aku pun jongkok, ngelus-ngelus si malaikat kecil yang udah berhenti nangis.

“Lucu banget, mau-eun sama manusia.”

“Kita bawa aja, ya.”

Aku ngeliat pacarku dengan heran. Tumben dia mau ngambil kucing.

Pacarku dulu nggak suka kucing dewasa, cuma suka anak kucing. Tapi untuk pelihara anak kucing dia biasanya nggak mau. Biasanya kalo ketemu anak kucing di jalan cuma dielus-elus, dikasih makan, tapi nggak mau dibawa pulang. Mungkin anak kucing ini memang jodoh sama pacarku. Semoga aku juga jodoh sama pacarku. Amin. Kembali fokus ke topik.

Jadi lah kami bawa anak kucing itu naik motor ke kosan pacarku dan sampai di kosan aku cek keadaan anak kucing itu. Kotor, kurus, dan ada kotoran menempel di bulu di bagian perutnya. Pacarku pergi ke tukang nasi goreng di depan kosannya untuk beli ayam suwir lalu kucing kecil itu makan lahap banget.

Waktu itu kamar kos pacarku belum dilengkapi sama segala keperluan kucing, jadi kami tempatkan anak kucing itu di kotak kardus dengan alas beberapa lembar koran, kalau-kalau dia pup atau pipis. Dia sempat nangis sekitar 30 menitan lalu tidur. Aku pun cuci tangan dan bersiap pulang.

Besoknya si kucing kecil kami siapkan untuk ke dokter. Aneh, dia nggak pup atau pipis semalaman, sekitar 18 jam setelah diambil. Mungkin sakit, pikirku.

Sampai di dokter, kali kebagian nomer urut 5 dan dokternya pun belum datang jadi kami mengunjungi pet shop di sebelah tempat praktek dokter. Beli keranjang kucing, dry food dan snack untuk kucing, trus si kucing kecil kami tempatkan di dalam keranjang sambil dikasih snack. Trus kami kembali nunggu di depan klinik, dan seorang ibu-ibu dengan keranjang kucingnya yang berisi kucing ras, bertanya ke kami.

“Kucing kampung?”

“Iya, baru nemu di jalanan. Mau dipelihara daripada kelindes mobil.”

Ibu itu tidak menjawab dengan kata-kata tapi memberikan pandangan jijik ke arah keranjang yang dipegang pacarku. Sabar, pikirku.

Pas giliran kami, si dokter nanya, “Kenapa kucingnya?”

Bingung, kami pun jawab, “Baru ambil dari pinggir jalan, mau cek aja apa ada penyakit.”

Dokter pun melakukan berbagai tes dan si kucing dinyatakan sehat.

“Tapi dari tadi malam dia nggak pup nggak pipis dok.”

Dokter menekan-nekan bagian perut kecil si kucing.

“Ini udah banyak kok pipisnya, mungkin harus di pasir.”

Waktu pacar lagi bayar biaya dokterya, aku lagi main sama si kucing supaya dia tenang. Aku nggak dengar pembicaraan si dokter dan si pacar, tapi kata si pacar, dokternya sempat bilang, “Makasih ya mas, semoga lebih banyak orang kayak mas dan mbaknya.”

Abis dari dokter dan balik lagi ke pet shop untuk beli perlengkapan toilet si meong, kami balik ke kosan dan nempatin semua perlengkapan yang baru dibeli. Semua persiapan selesai, dan toilet kucing pun siap dipakai. Kami taro si kucing di atas pasirnya dan setelah endus-endus si kucing pun pipis lamaaaa banget sampe merem-melek.

Dimulailah hari-hari kami dengan anak kucing yang super sehat dan super enerjik, yang kemudian pacarku beri nama Mika. Mika ini pintar, pipis dan pup selalu rapi, makannya ga rewel, dan setelah beberapa hari di kosan dia udah bersih kinclong hasil mandi sendiri. Kotoran di perutnya pun jatuh tanpa kami bersihkan.

Udah cantik :D

Udah cantik 😀

Pacarku yang tadinya nggak suka kucing pun jadi rajin cari tau soal sifat-sifat kucing, kesehatan kucing, dll. Kadang malah dia yang lebih tau. Browsing, baca-baca blog pecinta kucing kayak blognya oom doniiblis, tiap hari dia pelajari demi ngertiin Mika. Ganti catfood sama yang lebih mahal dikit dia rela walaupun keuangannya pas-pasan, semua demi Mika. Tiap hari pasti ada saatnya pacarku cerita kelakuan baru Mika. Kadang-kadang pacarku masih emosi kalo Mika bandel, tapi setelah kukasih pengertian sebentar dia langsung ngerti. Kami pun hidup dalam keharmonisan nusantara.

Petualangan sama Mika nggak pernah ngebosenin ataupun ngerepotin. Tiap hari main, tiap hari bangunin pacarku pagi-pagi, kalo main keluar bisa pulang sendiri, nggak pernah nganggu orang makan dan kalo ditinggal di dalam kamar dia terima-terima aja asal pulangnya dia dikasih snack. Ideal.

Hobinya Nonton Videos for Your Cat

Hobinya Nonton Videos for Your Cat

Dua setengah bulan udah lewat sejak Mika tinggal sama kami. Dua bulan yang penuh dengan kegemasan, penuh kelakuan Mika yang aneh-aneh tapi unik, penuh dengan kasih sayang yang kami bagi bertiga. Mika-chan. Mikatun. Mikaokao. Mika mika mika.

Sampai suatu hari, 1-2 minggu lalu, aku berangkat ke Bekasi, ke rumah kakakku untuk jadi baby sitter karena suaminya ada acara kantor ke luar kota. Sore-sore disana, lagi jagain ponakan yang lagi jungkir balik, tiba-tiba pacarku BBM.

“Yang, Mika jalannya miring-miring, kenapa yah?”

“Yang, Mika berdarah-darah.”

“Yang, tolong.”

Aku panik. Aku telepon pacarku. Dia pun panik. Semua berlalu begitu cepat. Belum sempat pacarku berbuat apa-apa, Mika udah nggak gerak lagi.

Mika pergi.

Mika nggak mau ngerepotin kami semua kalau dia berlama-lama sakit.

Mika cuma mau pulang ke rumahnya untuk permisi sebelum dia pergi.

Pacarku pun ngambil salah satu kaosnya untuk membungkus Mika dan menguburkannya di halaman di depan kosannya.

Menurut cerita pacarku, dia lagi di depan komputer waktu tiba-tiba ada suara Mika dan disusul suara sesuatu jatuh di tangga di depan kamarnya. Pacarku buru-buru keluar, menemukan mika berjalan sempoyongan trus jatuh terkulai. Pacarku sempat nyoba bantu Mika berdiri, tapi Mika udah ngga kuat. Pacarku langsung meluk Mika dan manggil teman satu kosnya untuk ngantar dia ke dokter, dan tiba-tiba Mika muntah darah di pelukan pacarku yang kemudian ngeletakin Mika di lantai. Beberapa teman sekosannya ikut keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi dan berusaha membantu, tapi terlambat. Mika merenggangkan tubuhnya dan mengeluarkan pipis terakhirnya.

Dugaan saat itu Mika makan racun tikus atau makan tikus yang keracunan, dan waktu terasa sakitnya dia udah nggak kuat lagi dan cuma mau pulang, mau ngeliat papanya untuk terakhir kalinya.

Kami merasa lemah. Aku nggak langsung berangkat ke Bandung begitu dengar berita dukanya, aku nggak bisa ninggalin kakakku karena suaminya lagi keluar kota. Aku baru kembali ke Bandung esok harinya, dan dijemput pacarku di pool travel. Mata kami sama-sama sembab. Cuma sedikit obrolan tentang Mika, dan kami nggak sanggup meneruskan kata-kata kami.

Sempat pacarku bercerita, tadi malam dia mimpi didatangin Mika.

“Dia bawa kucing kecil warna abu-abu, mirip sama dia, trus abis ngantar, dia pergi lagi.”

Mimpinya cuma itu, ga panjang-panjang. Jadi ceritanya juga cuma sepenggal gitu dan mungkin singkat karena dada rasanya sesak kalo cerita panjang lebar soal perginya Mika. Kami pun diam, melanjutkan perjalanan ke rumah saudara pacarku untuk ketemu adeknya pacarku.

Sampai di Geger Kalong, buka pagar, parkir motor, dan pas mau masuk rumah kami mendengar suara kecil. “MIAW! MIAW! MIAW!”

Terlihat seekor kucing kecil, badannya putih dengan empat ‘tompel’ abu-abu, kepalanya abu-abu dan ekornya bengkok berwarna abu-abu.

Dan saat itulah kami bertemu Mikado, sebuah kado dari Mika.

Mikado

Welcome, Mikado!

Mikado banyak miripnya sama Mika, sampe kita ngerasa ini sih Mika lagi, cuma lebih bawel dan bobo melulu. Hihihi.

Trus kita terpikir, ternyata Mika nggak biarin kita sendirian lama-lama. Kita langsung dikasih temen baru buat jadi penerus Mika.

Mungkin Mika cuma sebentar tinggal sama kami itu untuk ngasih kami pelajaran.

Mungkin ada perlakuan kami yang salah ke Mika.

Mungkin Mika berkorban supaya kami siap nampung Mikado.

Terima kasih kadonya, Mika. Kami janji rawat Mikado sebaik-baiknya.

Semoga Mikado cepat besar, dan tinggal sama kami sampe 25 tahun kalo boleh.

Semoga di surga kucing tempat mainnya luas ya Mika, jadi Mika bisa lari-lari bebas.

Semoga nggak ada kucing yang berantem disana, Mika kan suka takut kalo ada kucing yang berantem.

Jangan lupa makan ya Mika. Baik-baik ya jadi kucing malaikat.

We love you, Mika. We miss you…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s